Selasa, 19 Maret 2013

Gerimis Tangis Bulan Januari

Tak perlu kamu tahu, cukup rasakan saja. Di sini,  bersama gerimis di bulan Januari, aku masih mengejamu sebagai yang pertama.

SATU JANUARI

"Seribu jejak terpatri. Mencetak kenangan di setiap incinya. Semoga asa, cinta, dan bahagia memderas di esok hari, untukmu." - 1 Januari 2013.

Itulah sebaris doa yang kuiba tulus untukmu, ketika malam berdetak dengan cepat meninggalkan Desember. Satu Januari mengintip dari balik jendela; memelukku dalam kesendirian di tengah kemeriahan pesta.

"Benarkah rindu itu mempermainkan waktu? Menyekatmu berjarak begitu jauh hingga nyaliku beku."

Berpesta dalam kesepian. Tanpa menyisakan warna- warni rindu hingga pagi menjelang. Begitulah rasanya bila tanpamu. Hingga kusudahi waktu dengan bersandar pada tidur yang tak lena. Sudahlah! Mari kita sudahi malam pergantian tahun ini dengan menabung cinta.

Serba pertama 1-1-2013. Fajar pun tiba. Buka mata, satukan langkah, pikiran, dan hati. Dan dinding pun menuang kata. Di bawah pendar jingga, kebersamaan kita meluruh waktu; mengukir larik rasa. Kucatat lagi kenangan itu, dalam tepekurku.

Menunggumu, entah untuk yang keberapa kali. Bersama fajar, sekali lagi kucatat lagi terpasungnya diri dalam jaring matamu lagi. Sedetik tak terhitung nilainya, ketika satu kata yang terucap begitu berarti; ketika satu rasa yang terungkap begitu bermakna.

Bulat matahari gagal kubingkai keindahannya. Mendung yang mengundang gerimis pun datang, menghapus kemuning jingganya. Semoga tidak dengan rasaku dan rasamu; rasa kita. Karena aku tak punya satu pun alasan untuk berkata tidak maka katakan iya, dan percayalah kita masih bersama.

"Rinduku meradang. Napasmu bersenandung parau di sini; pikiranku!"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar