ketika senja mulai mengiring di cakrawala.. tak juga ada setutur sapa.. antara kamu.. aku.. dan mungkin takkan mungkin ada kita. kala itu mentari sedang bermalu2 menampakkan diri yang hendak menuju peraduannya.
Artha Perdana Kurnia, itulah namamu.. nama yang begitu asing di telingaku. melalui seucap tutur katamu pada seorang teman.. kau berhasil membuatku malu dan terdiam bukan kepalang, kalah telak.
haruskah aku terus menertawakan diri ini.. semenjak itu.. rasa penasaranku akan sosok dan keakuanmu begitu berkembang.. terus tumbuh rasa ingin tahuku akanmu.. ironisnya tak mampu aku menatap bahkan mengecap sepatah kata dihadapmu..
semua itu twlak lekang terkubur masa.. berjalan diroda kehiduan.. hingga tersisa kenangan daei sebuah kebersamaan yang tak pernah terabadikan.. cerita ini mungkin hanya aku dan Tuhan yang tahu.. tentang pencarianku akan sosokmu yang kandas entah kemana.. seakan sepenggal tanya yang masih tersisa menjadi buih dan helaian beledu.. inging kubiaikkan perasaan tak karuan itu.. namun ngiangpun tak kunjung sampai.. engkau pergi.. terus menjauh.. isakku tersisa mengais pongah2 manja sapamu, dalam bening memoriku.
percakapan bodoh kita tentang sebuah cerita si putri tidur.. tentang cerita lalu inagurasi.. tentang tegur sapa malu2 didepan lensa, seperti segitiga sama kaki.. tersimpan utuh dalam benakmu, hasratku, dan takdir Tuhan yang menjadi puncaknya..
bodoh.. lugu.. namun manis.. tak pernah bosan kuulangi cerita tentang arti hadirmu dahulu.. tentang kepergianmu yang menyisakkan penggalan tanya dan kesendirian dilanda sindiran tentang kita yang sebetulnya tak peenah ada.. bagaimana dapat menyelesaikan akhir dari kisah cerita kita.. karena awalnyapun entah berada dimana. dan aku pun tak tahu.. ada dikilometer berapakah aku hingga lantas kau akan mengejakku sebagai sesuatu dengan subjek cinta..
kau pergi dari peredaran.. aku begitu merasa kehilanganmu.. bening tatapmu.. perhatianmu pada sosok wanita gempal itu, aku. secara diam2 kau lontar pandangmu kearahku dengan sudut matamu..
Artha.. kau pergi dan kembali memasuki dimensi hidupku.. mengubah rotasi arah tujuanku menjadi suatu hal yang kueja dan kusebut dengan subjek bahagia..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar