Minggu, 24 Maret 2013

Lemahnya diri ini

gejala2 dan pertanda penyakit tak mengenakkan menyerang.. sekarang ini hanya seorang diri di unit gawat darurat.. keracunan obat dan emosi tidak stabil. alhasil.. ga boleh pulang!
 dokter untung memarahiku. pengobatan 6 bulan tidak rampung dan bipolar ini tak kunjung hilang.. beliau mengatakan, self esteem kamu sudah high level. i don't care dok ah.. toh tidak membahayakan jiwa orang lain.. dan dokter ga percaya kalau aku keracunan obat asam lambung yg diminum terlalu deket sama kiranti. hadeuhhh.. dok dok masa sikira mau suicide. ya ampun.. ga lah dok.. saya mau nikah tau! sok dodol ah dokter mah!
dan miris kamu ga peduli dgn keadaanku.. ini yg aku takuti.. gimana kalo hasil medical check nanti menakutkan.. aku bisa2 mati tanpa kamu ketahui. dimana nya yg peduli.. lantas apanya yg takut kehilangan aku kalo gini.. sedih rasanya!

Rabu, 20 Maret 2013

Patah Arang

Gerimis tidak menidurkan danau.
Hanya membuat cemara termangu.
Berbicara dalam kebisuan, dalam diam.
Tanpa suatu yang pasti..
Diam itu kalimat sunyi.
Diam- diam mengurai ceritanya sendiri.
Dan aku ada didalamnya sebagai peran utama.

Kala sang surya beranjak ke peraduan.
Temaran senja membauri langit luas.
Menenun selaksa kenangan..
Dengan seuntai benang kasih.
Berharap, dan tak berhenti.
Setidaknya, masih ada kesempatan untuk berlari lagi, suatu saat nanti.

Mengarungi lembah kehidupan
Mencari secercah asa..
Menempuh bahtera kehidupan.
Yang tak lekang jua!
Diam pun terbatas waktu.
Membisu kata ditempias ragu.
inikah pilihanku?
Masam masih menyapa..
Berdiri dengah pongah!

Tanya bisu. "Aku yang sepenuhnya telah berbuat sia- sia tanpa logika dan tepikan nyata, atau mungkin mengingkari realita?! Tepatnya."
Kosong. Ketika rasa menghuni ruang ketidakberdayaan.
Bahkan, gelisah pun tak terendus penciuman.
Setitik tanda melintas lalu!
Menampar tak basah di lipatas desah.. Aku resah!

Aku tepikan tanya yang menciut di ambang ketakutan.
Diam meradang tak tentu arah.
Aku tidak menyerah..
Hanya lelah dan sedikit terengah..
Apalah daya..
Aku hanyalah seorang wanita.

Inikah saatnya membalik halaman dan menutup buku?
Meskipun belum sampai di bab terakhir?
Dalam wirid lemah tanpa pongah, aku mengiba dalam doa.
Tuhan, perkenankanlah kiranya..
Tetapkan ia dihidupku yang tak ku tahu batas usiaku.
Izinkan aku beremansipasi..
Meminta diri menjadi seorang istri..
Untuk kekasih pujaan hati.

Terbaring

Kalau aku terbaring sakit seperti ini..
Suka kubayangkan ada selembar daun tua.
Kena angin dan lepas dari tangkainya..
Melayang ke sana kemari tanpa tenaga.

Kalau aku terbaring sakit seperti ini..
Suka kubayangkan kalian nun di bukit sana.
Berebut menangkap daun yang melayang- layang itu..
Dan penuh rindu menciumnya berulang kali.

MERASUK MALAM

Saatnya tiba untuk berbisik perlahan pada Tuhan, aku sudah siap.
Tapi ingin tahu..
Bilakah saat diriku Kau ambil agar kurasakan nikmat, maut menjemput dalam terang tanpa berkabut.
Dan inilah kata, ketika aku merasuk dalam malam.

Sulit tidur adalah kebiasaan setelah tua.
Tapi sungguh, tak ada takutku pada maut.
Hari- hari ini tiba, untuk berbisik perlahan membujuk Engkau memberitahuku soal yang satu itu.

Aku ingin mengalaminya sendiri. Dan menikmati mati.
Sehingga menjadi sangat indah, tanpa cadar. Dan ketika itu tiada pemberontakkan, kacuali suka sama suka.

Tuhan- ku Maha pengasih..
Berikanlah aku sedikit waktu, barang beberapa purnama.
Lalui sisa penghabisanku, mengamalkan dan tuntaskan kewajibanku. Menjaganya.
Sisipkan aku dihidupnya, tunaikan syariat- Mu dan penuhi ibadah kami.
Biarkan aku senantiasa menjadi satu- satunya alasan dia tersenyum, saat pelik dan praha tiba.
Buai dan timang kami, dalam singkatnya waktu 'tuk mengeja sebaris kata "bahagia", bugil, bulat, dan utuh. Tanpa jeda dusta.
Izinkan dia meminangku terlebih dahulu, dan aku menjadi ibu dari anak- anaknya.
Hingga tiba saatnya nanti, dengan senyuman selembut beledu.. aku pulang keparaduanku, rumah- Mu.
Lengkap sudah beban asaku.

Tuhan, hanya itu inginku..
Mengecap seutas benang pengharapan, sebelum hembus nafas terputus.

Selasa, 19 Maret 2013

Gerimis Tangis Bulan Januari

Tak perlu kamu tahu, cukup rasakan saja. Di sini,  bersama gerimis di bulan Januari, aku masih mengejamu sebagai yang pertama.

SATU JANUARI

"Seribu jejak terpatri. Mencetak kenangan di setiap incinya. Semoga asa, cinta, dan bahagia memderas di esok hari, untukmu." - 1 Januari 2013.

Itulah sebaris doa yang kuiba tulus untukmu, ketika malam berdetak dengan cepat meninggalkan Desember. Satu Januari mengintip dari balik jendela; memelukku dalam kesendirian di tengah kemeriahan pesta.

"Benarkah rindu itu mempermainkan waktu? Menyekatmu berjarak begitu jauh hingga nyaliku beku."

Berpesta dalam kesepian. Tanpa menyisakan warna- warni rindu hingga pagi menjelang. Begitulah rasanya bila tanpamu. Hingga kusudahi waktu dengan bersandar pada tidur yang tak lena. Sudahlah! Mari kita sudahi malam pergantian tahun ini dengan menabung cinta.

Serba pertama 1-1-2013. Fajar pun tiba. Buka mata, satukan langkah, pikiran, dan hati. Dan dinding pun menuang kata. Di bawah pendar jingga, kebersamaan kita meluruh waktu; mengukir larik rasa. Kucatat lagi kenangan itu, dalam tepekurku.

Menunggumu, entah untuk yang keberapa kali. Bersama fajar, sekali lagi kucatat lagi terpasungnya diri dalam jaring matamu lagi. Sedetik tak terhitung nilainya, ketika satu kata yang terucap begitu berarti; ketika satu rasa yang terungkap begitu bermakna.

Bulat matahari gagal kubingkai keindahannya. Mendung yang mengundang gerimis pun datang, menghapus kemuning jingganya. Semoga tidak dengan rasaku dan rasamu; rasa kita. Karena aku tak punya satu pun alasan untuk berkata tidak maka katakan iya, dan percayalah kita masih bersama.

"Rinduku meradang. Napasmu bersenandung parau di sini; pikiranku!"


Tanpa Ada Kata Bosan, Rindu itu..

Beruntunglah punya ingatan.
Dari titik jenuh, kita tinggal melompat ke masa yang paling membahagiakan.
Dari usapannya, rindu ternyata tidak mengerang dalam jarak semata.
Tapi sekaligus meratapi kedekatannya.
Sekat hanya batas belaka.
Ingatan yang berkuasa menembus selubungnya.
Sebagai yang kurindukan, kamu tetaplah nyata.
Sebagaimana rindu yang mempertemukan jarak, di ceruk mana pun kamu berada, kita bersama.
Rinduku menyisir sunyi di sudut bibirmu.
Juga merayakan riuh gaduhnya di palung hatimu.
Dan, pada petak hatimu, aku ingin menanam seribu padi.
Pada saatnya, menguning bersama rindu yang meniadakan kata bosan.

BERGETAR AKU MEMINANGMU..

Rinduku adalah deeu dendam pertemuan.
Aku akan membalasnya dengan basah kecupan saat bibirmu terantuk kesepian.

Hai, Rindu..
Kamu makin tak tahu malu saja!
Begitu telanjang kamu di depanku.
Dan bergetar, aku meminangmu.

Sungguh beruntung, aku tak perlu menunggu musim panen.
Reruntuhan rindumu telah jatuh di pelataran pagiku.
Dan, kini aku mereguknya dari secangkir kopi.
Terasa begitu sedap.
Rindumu manis, bahkan sangat mania si indra rasaku.